Senin, 12 Mei 2014

KABAYAN LEGENDA SUNDA


Siapa tak kenal Si Kabayan tokoh dalam dongeng masyarakat sunda ini sering disalahfahami sebagai sosok yang bodoh dan malas. Padahal di balik sikap si Kabayan yang lugu itu, sebetulnya leluhur urang Sunda menciptakan sosok si Kabayan untuk menggambarkan filosofi dan world view urang Sunda yang sangat sprititual. Sayang tak banyak orang yang menangkap sisi ini.

Berikut ini beberapa filosofi hidup di balik sikap si Kabayan:
Geus teu nanaon ku nanaon:
Artinya tidak terpengaruh oleh apa-apa. Sehari-hari si Kabayan hidup dengan gembira, tak pernah dikhawatirkan oleh hal-hal dunia dan hiruk pikuk kehidupan. Kemalangan tak membuatnya bersedih, kegembiraan tak membuatnya eforia. Menurut KH. Jalaludin Rachmat, salah satu inti dari ajaran kebahagiaan yang diajarkan dalam prsikologi modern maupun ajaran-ajaran sufi klasik adalah sikap ini: Tak terlalu sedih ketika ditimpa kemalangan, tak terlalu gembira ketika mendapat kesenangan. Karena baik kesenangan maupun kemalangan adalah sementara, datang dan pergi dalam hidup kita. Ketidakbahagiaan disebabkan ketidaksiapan kita menerima dan melepas yang sementara dengan rela (ridha). Simak saja semua cerita si kabayan, penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan. Tak ada kisah sedih atau bahagaia yang berlebihan seperti dalam cerita film India atau Sinetron.
 
Full bodor dan memberikan kebahagaiaan pada orang lain
“Heuheuy deudeuh!” biasanya dilontarkan si Kabayan ketika menyaksikan atau mengalami kebahagiaan atau kesenangan. Makanya ada ungkapan dalam bahasa Sunda “Hirup mah heuheuy jeung deudeuh!, mun keur seuri cape seuri mun keur ceurik cape ceurik” Hidup itu selalu kesenangan dan kesedihan jika sedang menangis akan capek nangis, ketika tertawa akan capek tertawa. Semua saling berganti, jadi enjoy aja lah! Makanya heureuy atau guyon menjadi menu utama orang Sunda, seperti terlihat dalam sosok Kabayan. Dari guru, penghulu, hingga kyai cenderung mengandung unsur heureuy dalam cara mereka menyampaikan pesan-pesannya. Bahkan agak sedikit cawokah, alias menyerempet hal-hal dewasa yang dalam bahasa sunda disebut “jorang”. Berbeda dengan tradisi wayang kulit atau cerita Mahabarata dan Ramayana yg aslinya dari India, dalam pagelaran wayang golek sunda, tokoh cepot yang bodor sepertinya jauh lebih mendapatkan perhatian dibanding Arjuna, Gatotgaca atau tokoh serius lain. Hal utama dalam sikap hidup si Kabayan dan filosofi hidup orang Sunda adalah memberikan keceriaan dan kebahagaiaan kepada orang lain.
 
Menangis saat gembira, tertawa di kala duka
Salah satu cerita populer dari legenda si Kabayan adalah ketika berjalan di tanjakan dan turunan. Saat Kabayan menaiki jalan menanjak, dia tertawa senang. Sebaliknya, ketika menuruni pudunan alias turunan, dia malah menangis. Melihat sikap yang aneh itu, teman seperjalananya bertanya keheranan. Kabayan menjawab bahwa ketika di tanjakan di tertawa karena dia yakin setelah tanjakan pasti nanti ada turunan, karena itu dia bahagia memikrikannya. Dan ketika berada di turunan, dia sedih karena turunan itu akan segera berlalu dan tanjakan akan dia hadapi. Sikap ini menunjukkan bahwa kita hidup tidak terpaku pada sesuatu yang kita alami SEKARANG, tetapi melihat jauh ke depan.
 
Teu daya teu upaya
Lengkapnya: “Abdi mah teu daya teu upaya, mung ngiringan kersaning Anjeun” Ini ungkapan yang artinya kira-kira sama dengan Laa haula walaa quwwata illa billah, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Orang Sunda melihat kehidupan seperti wayang atau bayang-bayang, yang hidup karena dimainkan oleh dalang. Wayang sama sekali tak memiliki daya dan upaya.

Melalui pemahaman akan filosofi-filosofi di atas mungkin kita bisa melihat dengan cara berbeda kisah-kisah si Kabayan. Produktivitas, kerja keras, hal-hal duniawi yang menjadi fokus hidup kita sekarang memang akan menyulitkan kita mengapresiasi sosok Kabayan. Kita cenderung melihat sosok si kabayan yang malas, bodoh dll. Padahal semua sikap si Kabayan bisa jadi anti thesis terhadap kehidupan modern yang terlalu cepat sehingga melewatkan kegembiraan-kegembiraan kecil sehari-hari, yang masih bisa dinikmati oleh si kabayan. Di barat kini tengah ngetrend gerakaan deselerasi, pelambatan hidup. Misalnya dengan berjamurnya pusat-pusat yoga dan meditasi, slow food, dll.

Misalnya ada satu kisah tentang kabayan ngala (mengambil-red) tutut (sejenis keong sawah yang bisa dimakan dan mengandung protein tinggi, enak sekali!). Sudah berjam-jam Kabayan masih saja jongkok di pematang sawah dan tidak mau masuk ke sawah, sambil emmandanig air yang menggenang di sawah yang masih basah itu. Melihat sikap Kabayan yang aneh itu, mertuanya bertanya mengapa dia tidak juga turun ke sawah. Kabayan menjawab bahwa dia tidak mau turun ke sawah karena air di sawah dalam sekali, saking dalamnya, dia bisa melihat langit di permukaan air sawah.

Cerita di atas sering dianggap sebagai cerita “bodoh” si Kabayan, masak dia takut masuk ke sawah karena dia menggap airnya dalam gara-gara melihat bayangan langit di permukaannya. Padahal jika kita renungkan, kisah ini menyindir kebodohan kita dalam memandang hidup. Kita sering ketakutan oleh kehidupan dunia yang sebetulnya adalah bayang-bayang, seperti juga bayangan langit di permukaan air sawah. Kita sering khawatir kehilangan pangkat, jabatan atau kekayaan. Padahal semua itu bayang-bayang yang pasti akan hilang. Kalau kabayan takut oleh bayang-bayang langit, itu sebetulnya menyindir kita yagn sellau ketakutan oleh bayang-bayang duniawi, sesuatu yagn tak nyata dan pasti hilang.

Cerita ini mengingatkan saya pada kisah sufi Nasruddin Khoja. Suatu saat dia meninggalkan keledainya di tengah gurun pasir. Ketika dia kembali, dia tidak menemukan keledainya. Ketika seseorang bertanya kepada Nashrudin di mana tadi di ameninggalkan keledainya, Nashrudin menjawab bahwa dia sangat yakin bahwa ditempat itulah di ameninggalkan keledainya, sebagai tandanya dia menunjuk awan di langit, “Saya simpan keledai saya tepat di bawah awan itu, swear!” Kisah ini terlihat sama bodohnya dnegan Kabayan. Masak awan dijadikan patokan tempat keledai ditambatkan. Padahal awan kan bergerak, tidak bisa jadi patokan. Tapi seperti itulah sebetulnya seringkali kita menjalani dan memandang hidup. Kita sering menambatkan sesuatu harapan pada patokan yang tidak abadi. Kita menambatkan kebahagiaan pada sesuatu yang sementara, bergerak dan bsia hilang.

Sosok Kabayan selalu ada di setiap budaya, diciptakan oleh leluhur kita untuk mengabadikan kebijakan sebagai warisan untuk generasi-generasi berikutnya. Seperti juga sosok Nasrudin Khoja dalam tradisi Sufi. Dalam tradisi sufi, ada satu istilah (yang saya lupa) yang menggambarkan bahwa sufi-sufi yagn ilmunya sudah tinggi suka berpura-pura jadi orang yang bodoh, agar mereka bisa memberikan nasihat kepada banyak orang dnegan cara yang bersahaja, tanpa menggurui. Sebagian orang yakin bahwa Nasruddin Khoja adalah sufi besar, jadi mungkin juga kalau Kabayan itu adalah seorang Sufi (?)
Selain sikap hidup yang asketik di atas, ada beberap kualitas Kabayan yang jadi filosofi dalam kehidupan sehari hari misalnya:
* Cageur: sehat fisik dan rohani
* Bageur: baik hati
* Pinter: cerdas
* Motekar: kreatif
* Basajan: sederhana
* Handap asor: rendah hati