Selasa, 22 April 2014


STOP PERANG SURIAH !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Kelompok kerja Hak Asasi Manusia yang berbasis di London, The Syrian Network melaporkan pada Kamis (17/04) bahwa, sebanyak 14.629 anak-anak tewas dalam serangan rezim Suriah sejak perang yang bergejolak pada Maret 2011.Kelompok tersebut juga menambahkan, 2,1 juta anak-anak Suriah menderita kekurangan gizi dan kesehatan, sementara 1,1 juta anak Suriah hidup sebagai pengungsi di negara-negara tetangga.

Menurut kelompok ini juga, setidaknya 35 ribu anak telah lahir sebagai pengungsi akibat konflik tiga tahun di negara yang dilanda perang.
Sejak konflik meletus, 3,5 juta anak-anak harus meninggalkan sekolah.
Pada bulan Agustus tahun lalu, Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengumumkan satu juta anak-anak Suriah terdaftar sebagai pengungsi di negara-negara tetangga. (TOM/UL/zaman al wasl)

 Anak-anak termasuk diantara setengah dari sekitar lebih dari 2,2 juta warga Suriah yang melarikan diri dari tanah air mereka, demikian menurut data pengungsi PBB.
Sementara negara-negara tetangga memperkirakan sekitar 3 juta orang Suriah telah meninggalkan tanah air mereka yang dilanda perang, yang artinya sekitar 1,5 juta anak-anak Suriah kini hidup sebagai pengungsi.

“Melihat kembali apa yang terjadi 20 tahun terakhir, krisis pengungsi Suriah bagi kami tidak paralel dengan krisis Rwanda,” kata Turk, mengacu kepada genosida tahun 1994 di negara Afrika tersebut.
Ia menunjuk bahwa anak-anak itu mewakili setengah dari 6,5 juta orang yang dipaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik, tapi masih berada di dalam wilayah Suriah.
Dalam laporan itu, anak-anak menggambarkan lewat kata-kata dan gambar kengerian yang mereka saksikan dan gejolak yang terjadi.

“Ada darah hingga selutut orang di Suriah,” kata Sala yang berusia 17 tahun.
Sementara Maher, 16 tahun, yang disiksa di Suriah, yang ayahnya masih hilang di sana, mengatakan: ”Harapan pertama saya adalah ingin kembali ke Suriah dan membebaskan ayah saya.”
Sejumlah anak-anak juga menggambar berbagai senjata perang dan mayat.

”Gagasan tentang rumah dan kehangatan hilang dalam gambaran,“ kata Turk.
“Ada banyak kengerian psikologis dan ada banyak trauma… anda bisa lihat bagaimana mereka tidak bisa tidur, anak-anak sangat tenggelam, ada yang gagap, dan mengompol.“
Kemarahan juga adalah hal biasa, dengan sejumlah anak laki-laki ingin kembali ke Suriah untuk ikut berperang.
Bekas luka lainnya bersifat fisik: 741 anak-anak Suriah dirawat karena luka perang di Libanon selama enam bulan pertama tahun ini, dan 1.000 lainnya dirawat di kamp pengungsi Yordania.